Senin, 20 September 2010

halaqah

Pola Halaqah Dan Talaqqi

            Yang digaris atasi  dalam buku yang ditulis anggota Dewan Syura Hidayatullah kelahiran Gresik 40 tahun yang lalu ini, bahwa kurikulum yang dijadikan sumber rujukan yang tidak pernah kering oleh Rasulullah SAW untuk menterapi patologi sosial bangsanya adalah sistematika nuzulnya wahyu dalam bentuk halaqah ta’lim (lingkar studi) dengan sistem talaqqi (menghadap kepada seorang guru). Beliau dipandu langsung oleh malak Jibril as. ketika menerima wahyu. 
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya [Rasulullah SAW dilarang oleh-Nya menirukan bacaan Jibril as. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril as selesai membacakannya agar beliau menghafal dan benar-benar faham ayat yang diturunkan]. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya (QS. Al Qiyamah (75) : 16-19).
            Ada sebuah ungkapan ahli hikmah yang bisa memperkuat dua pola transformasi ajaran tersebut :
مَنْ لَيْسَ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ شَيْطاَنٌ
            Barangsiapa yang tidak memiliki pembimbing spiritual dalam berislam (syaikh, guru ahli) maka pemandunya adalah syetan.
            Dalam berinteraksi dengan sistematika nuzulnya wahyu ada dua pendekatan fundamental, sebagai konsep (fikrah, tashawwur, wijhah) dan sebagai sistem atau aksi (manhaj, kaifiyyah). Sebagai konsep ayat yang pertama kali turun, al ‘Alaq – perintah iqra (bacalah) -  sebagai suatu materi kajian, subtansinya adalah melahirkan teologi berpikir (berijtihad). Cara cerdas memahami ajaran. Karena itu, Islam ini dipikulkan kepada yang berfikir dewasa (mukallaf). Maka, teologi islam adalah teologi pencerahan, penyadaran. Kehadiran Islam ini bukan dengan pendekatan kekerasan, tetapi mengedepankan cara-cara yang menyejukkan dan keteladanan.
            Sebagai sistem, menyiratkan adanya celupan wahyu (manhaj, kaifiyyah). Artinya segala gerak aktifis dalam organ Hidayatullah dilandaskan pada aturan al Quran. Bukan menunggu turunnya wahyu, sebab wahyu sudah tidak akan turun lagi. Wahyu, sebagai spirit, prinsip dan paradigma gerakan. Pula wahyu sebagai minhajul hayah (tata acuan kehidupan).
 Kalau kita cermati lebih dalam, wahyu ini memang bukan hanya sebagai makanan logika. Wahyu ini menyentuh rasa, menyentuh ruh manusia, sehingga kalau diinjeksikan kepada manusia ia akan menjadi utuh. Tidak seperti ilmu yang lain, bila disentuh logikanya ya hanya intlektualnya saja, kalau rasa ya rasanya saja sehingga kepribadian manusia retak-retak (split personality). Ayat Allah menyentuh semua instrumen, tanpa bertentangan dengan logika. Wahyu memuaskan ahlu naql (orang yang mengedepankan teks wahyu) dan ahlul ‘aql (orang yang mengutamakan logika), ahli tasawuf.
Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS. Asy Syura (42) : 52).
Tahapan Menuju Muslim Ideal
            Sistematika wahyu yang selama ini dijadikan manhaj dakwah, tarbiyah dan jihad Hidayatullah adalah dimulai dari surat al ‘Alaq ayat 1-5 yang melahirkan sumber daya mukmin, al-Qalam 1-7 yang melahirkan sumber daya qur’ani, al-Muzzammil 1-10 yang memproduk sumber daya muttaqin, al-Muddatstsir 1-7 yang melahirkan sumber daya mujahid. Hanya sumber daya qur’ani yang memenuhi kelayakan untuk dirangkai dalam sebuah kultur dan struktur masyarakat al Fatihah (draft al Quran). Yang memiliki kesiapan untuk berinteraksi dengan nilai-nilai ummul quran (induk al Quran), akan mudah untuk memahami dan mengamalkan al Quran secara keseluruhan.
            Kita melihat sistematika wahyu sebagai sebuah tahapan berislam yang  sistematis. Pertama, kenalkan ummat akan Allah SWT terlebih dahulu (iman). Jika iman kokoh, tidak akan ada kekhawatiran tergelincir di tengah jalan. Kedua, antarkan untuk selalu butuh al Quran sebagai celupan dan acuan kehidupan. Ketiga, perbaiki struktur kepribadiannya dengan ibadah yang tekun (tabattul), shalat lail, baca al Quran, zikir, tawakkal, sabar, hijrah. Keempat, dorong agar memiliki kepekaan sosial untuk menyelamatkan ummat dari patologi sosial. Kelima, rakit mereka dalam suatu barisan yang rapi, yang memiliki kesiapan untuk diajak menuju jalan  Allah SWT. Sehingga menjadi ummat ijabah (komunitas yang mudah menyambut seruan-Nya) yang memiliki kekuatan untuk menyebarkan rahmat terhadap alam semesta.
            Saya memandang bahwa buku yang menjelaskan konsep tarbiyah, dakwah dan jihad ormas yang akan memasuki  kematangan usia (40 tahun) ini (“Hidayatullah” ) layak untuk dijadikan celupan/spirit dan acuan tata kehidupan oleh para pengambil kebijakan negeri ini, tokoh masyarakat, muballigh, pelajar dan mahasiswa, pemerhati sosial keagamaan, dengan harapan akan melahirkan inspirasi dan gelora baru dalam memetakan dan mengurai ketimpangan sosial.
Sekalipun demikian, buku yang diterbitkan oleh Pustaka Nun Di Kota Atlas,  ganti infaq cetak @ Rp. 75.000,- bersampul hard cover ini tidak bisa menghindari banyak kesalahan secara redaksional. Tetapi secara subtansial saya sependapat dengan harapan penulis, agar kehidupan kita yang didominasi oleh virus syubhat dan syahwat serta ghoflah (kelalaian) di era kontemporer ini, bisa disembuhkan. Sehingga beralih pada pola kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan bangsa,  merupakan turunan (derivat) dari celupan dan acuan wahyu. Agar karya tulis ini bisa dinikmati kalangan yang lebih luas, alangkah baiknya cetakan berikutnya ada edisi revisi redaksional secara total.
Kudus, 7 Juli 2010/28 Rajab 1431

Tidak ada komentar:

Posting Komentar